Jakarta -Mulai 1 Agustus 2014, penjualan BBM solar bersubsidi di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Jakarta Pusat (Jakpus) resmi dihentikan.
Penerapan aturan ini berdampak langsung pada turunnya penjualan BBM subsidi jenis ini. Penjualan solar di SPBU yang berlokasi di kawasan ini pun menjadi sepi.
Contohnya seperti dialami oleh SPBU yang terletak di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Salah satu Staf Pengelola SPBU menyebutkan, kendaraan angkutan umum yang rajin mengisi solar di SPBUnya kini tak lagi muncul.
"Tadinya banyak yang trayek Senen-Manggarai, Senen-Kota, banyak yang isi di sini. Tapi sekarang nggak ada sama sekali," kata Staf Pengelola tersebut saat ditemu detikFinance, Sabtu (9/8/2014).
Akibatnya banyak stok solar subsidi yang masih tersisa di SPBU-SPBU karena belum sempat terjual ke konsumen. Kondisi ini pun kian berat dirasakan pengelola SPBU lantaran tidak ada yang mau membeli BBM solar subsidi di lokasi ini.
"Stok dari yang sebelum ada pembatasan itu kan masih ada. Tapi hampir nggak ada yang beli karena harganya mahal. Tadinya harga subsidi Rp 5.500 per liter. Sekarang dijual dengan harga non subsidi. Harganya Rp 12.800," tutur dia.
"Penjualannya juga menurun. Biasanya bisa 3.000 liter per hari. Sekarang penjualan solar cuma di bawah 1.000 liter. Jauh sekali penjualannya," sambung dia.
Dirinya menceritakan, dari total persediaan solar subsidi pada tanggal 1 Agustus 2014 yang berjumlah 810 liter di SPBU ini, hingga saat ini jumlahnya tidak berkurang banyak.
"Masih ada 700 literan. Berkurangnya sedikit sekali. Yang isi paling cuma kendaraan-kendaraan yang nggak sengaja lewat kemudian terpaksa isi karena bahan bakarnya sudah mau habis," katanya.
(ang/ang)Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!
This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.